Oleh : Mabroer Masmuh / Aktivis Nahdlatul Ulama

Masa Depan Ekonomi Suram di New Normal

  • Whatsapp
mabroer
Mabroer Masmuh.

Keberpihakan pemerintah dan kalangan perbankan patut didorong lebih agresif.

Setelah mengikuti acara Webminar pekan kemarin, rasanya Indonesia ke depan pasca Pandemi Corona ini masih suram (Madesu-masa depan suram), khususnya dari sisi ekonomi dan keuangan. Kok suram? Pengangguran akibat Corona mencapai 1,6 hingga 6 juta orang, penyempitan lapangan kerja, penutupan ratusan unit usaha, hingga melemahnya pasar luar negeri.

Bacaan Lainnya

Kalau diurai secara detail terasa makin terasa gelap, apalagi berbagai kebijakan negara lain juga cenderung inklusif dan protektif. Artinya, globlasisasi yang selama ini didengungkan banyak kalangan, justru kini mengalami de-globalisasi karena mengalami dekonstrukti kehidupan di berbagai sektor sehingga banyak negara yang gagap dan belum sepenuhnya siap menghadapi New Normal. Oleh karena itu menjadi wajar, jika harapan banyak kalangan agar semua komponen bangsa bersatu padu menyamakan persepsi agar persiapan bangsa Indonesia dalam menghadapi era baru pasca Covid-19 ini jauh lebih matang. Kesamaan persepsi juga tidak harus menghilangkan daya kritisisme publik karena koreksi dan masukan merupakan pupuk dari demokrasi.

Menurut Ketua LPS DR Halim Alamsyah, deglobalisasi ini sudah mulai terasa dengan berbagai kebijakan yang diterapkan beberapa negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Untuk menopang ketahanan ekonomi & keuangan di dalam negeri, AS dan Jepang mengajak para pengusahanya di luar negeri untuk pulang kampung dengan insentif cukup menjanjikan. Masing-masing negara berusaha memagari kedaulatan ekonominya dengan beragam cara dengan satu tujuan, menyelematkan kehidupan rakyat dan negara dari ancaman krisis ekonomi global pasca Pandemi Corona. Saya kira, Indonesia pun memiliki persepsi yang sama kendati acapkali pemerintah masih disibukkan oleh berbagai kritik dan koreksi yang terlalu vulgar dan over dosis, bahkan tak jarang narsis.

Dari catatan banyak kalangan, kekuatan ekonomi Indonesia justru ditopang oleh pengusaha kecil-menengah (UMKM) yang jumlah mencapai 62.922.617 itu. Kendati mereka tak banyak mendapatkan privilege penguasa, namun gerobak para pedagang kelontong dan home industri itulah yang menjadi ‘penyelamat ekonomi’ Indonesia di masa Pandemi ini. Mereka justru yang menjadi soko guru perekonomian Indonesia, ketika negara sedang terseok-seok diterpa berbagai kriris. Dan, kali ini pun UMKM telah menunjukkan jati dirinya sebagai kekuatan yang tak bisa dinafikan. Menyadari akan hal itulah, tampaknya pemerintah mulai memberikan atensi kepada mereka, meski masih jauh dari yang mereka harapkan.

Dari angka tersebut, baru sekitar 3,8 juta yang mulai akrab dengan e-commerce alias bisnis berbasis online. Padahal, sebetulnya masa Pandemi Corona yang mengakibatkan berkurangnya pergerakan orang itu mengakibatkan melonjaknya permintaan berbagai kebutuhan melalui online. Dalam suasana seperti inilah, berbagai inovasi patut dilakukan, khususnya dukungan dari pemerintah agar dunia usaha di mikro ini benar-benar menjadi penyangga utama. Keberpihakan pemerintah dan kalangan perbankan patut didorong lebih agresif dan lebih memudahkan akses mereka ke dunia perbankan, termasuk bunga rendah (sekali).

Pos terkait