Oleh : Hari Purwanto / Direktur Studi Demokrasi Rakyat (SDR)

HBA Ke-60 Evaluasi SDM Menuju Kejaksaan yang Berwibawa dan Dipercaya Rakyat

  • Whatsapp
Hari Purwanto
Hari Purwanto.

Di tengah badai pandemi yang melanda dunia, Kejaksaan Agung justru menunjukkan anomali. Di saat sektor lain lesu dan aktifitasnya menurun, Kejaksaan justru terlihat semakin semangat dalam bekerja, teruama dalam penanganan korupsi. Menurut Jaksa Agung, momentum ini sepatutnya memicu tumbuhnya kesadaran bersama untuk membangun karakter manusia yang berguna. Karakter manusia yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya, walau sekecil apapun itu, dalam rangka membangun kehidupan yang lebih baik.

Saya melihat sosok Burhanuddin yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo menggantikan HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung memang sempat ditanggapi skeptis oleh publik. Selama berkarir di Kejaksaan sosoknya cenderung low profile, sikap yang masih terus dibawanya hingga kini. Meskipun dikenal kalem, tetapi sosoknya yang hangat gemar melontarkan candaan ringan pada sejawat dan jajarannya.

Bacaan Lainnya

Tetapi menurut saya, sembilan bulan menduduki kursi panas Jaksa Agung, dilantik tanggal 23 Oktober 2019, Burhan mampu mematahkan skeptisme publik dengan serangkaian karya dan prestasi. Maka kita bersyukur bahwa Presiden Joko Widodo memilih Burhan sebagai Jaksa Agung.

Saat Burhanuddin dilantik menjadi Jaksa Agung, kondisi kejaksaan tidak sedang baik-baik saja. Kejaksaan menjadi salah satu institusi yang paling tidak dipercaya publik. Maka menjadi tekadnya kemudian untuk mengembalikan marwah Kejaksaan menjadi suatu institusi yang sangat dipercaya oleh masyarakat. Momentum Hari Bhakti Adhyaksa ke 60 mesti menjadi batu uji keseriusan Jaksa Agung dan jajarannya untuk merebut kepercayaan rakyat.

Isu yang paling marak dan berpengaruh signifikan adalah jaksa nakal. Isu ini membuat marwah Kejaksaan suram. Menyikapi ini, Burhan bertindak sigap. Sepanjang Januari-Juni 2020 Kejaksan Agung menerima 427 aduan, dari jumlah tersebut tinggal 195 pengaduan yang masih dalam proses. Dalam periode tersebut sebanyak 68 orang telah diberikan hukuman disiplin dengan kriteria ringan 18 orang, sedang 22 orang, dan 28 orang kategori berat.

Menurut saya, saat ini Kejaksaan Agung sudah dalam format yang ideal. Jaksa Agung dengan kapasitas konseptor dan komunikator yang mumpuni serta tidak banyak cakap didukung oleh Wakil Jaksa Agung yang aktif dan operatif serta memiliki jejaring yang luas menjadikan langkah Kejaksaan menjadi lebih lincah dan cerdas.

Namun hal tersebut tetap tidak akan efektif jika tidak segera merombak struktur di bawah. Burhanuddin harus berani mengevalauasi jabatan struktural yang ada dengan mengedepankan kompetensi dan kemampuan. Karena fakta menunjukkan, tidak sedikit pejabat yang tidak kompeten akibat nepotisme di masa lalu. Jual beli dan nepotisme dalam menujuk pejabat struktural merupakan awal dari rusaknya kejaksaan.

Jaksa Agung harus bisa mejawab tantangan ini. Jangan biarkan rumor hidup dalam sendi kehidupan Kejaksaan yang ingin mengembalikan marwahnya sebagai penegak hukum yang berwibawa dan dipercaya rakyat.

Saya menilai upaya untuk melakukan seleksi untuk posisi kepala Kejaksaan Tinggi merupakan langkah awal yang menarik untuk memperbaiki merit sistem di Kejaksaan. Lelang jabatan ini merupakan terobosan untuk menjawab adanya isu jual beli jabatan dan nepotisme. Isu nepotisme dan jual beli ini telah menjadi salah satu penyebab lesunya kinerja Kejaksaan, sebab merit sistem dianggap tidak jalan. Di samping hal tersebut, Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Muda Pembinaan sebaiknya terus menata dan memperbaiki jenjang karir yang ada.

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait