Oleh : Stanislaus Riyanta / Pengamat Intelijen dan Keamanan

Kasus Kekerasan di Solo : Tindakan Cepat dan Tegas Polri Harus Didukung

  • Whatsapp
Stanislaus riyanta
Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta. [foto : Istimewa]

Peristiwa kekerasan atas dasar sikap intoleran terjadi di Solo, 8 Agustus 2020. Sekelompok massa yang mengatasnamakan Laskar Solo, mendatangi sebuah acara keluarga almarhum Habib Assegaf Al-Jufri di Jalan Cempaka No. 81 Kp. Mertodranan Rt 1/1 Kel/Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta.

Kelompok intoleran tersebut memaksa pihak Tuan Rumah untuk membubarkan acara adat Midodareni (doa malam sebelum Akad Nikah). Tidak hanya itu, kelompok tersebut juga merusak sejumlah mobil dan memukuli beberapa anggota keluarga. Secara brutal kelompok tersebut juga meneriakkan kalimat Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam dan darah Syiah halal dibunuh.

Bacaan Lainnya

Kelompok intoleran ini dengan brutal melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Aksi kekerasan tersebut mengakibatkan 3 orang menderita luka-luka. Ketiga orang tersebut adalah Umar Assegaf, (54 tahun), Hadi Umar (15 tahun) dan Husin Abdullah (57 tahun).

Aksi seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama menjadi indikasi bahwa kelompok tersebut merasa berada di atas hukum bahkan terlihat tidak peduli dengan adanya hukum yang berlaku di Indonesia.

Pemerintah melalui POLRI dengan cepat telah berhasil menangkap para pelaku (9/8/2020). Langkah POLRI ini harus didukung. Polri diharapkan juga dapat mengusut tuntas motif dari pelaku mengingat aksi tersebut sudah menimbulkan korban luka-luka dan keruguan material.

Polri juga perlu menyelidiki kemungkinan adanya motif lain dari para pelaku diluar kekerasan karena sikap intoleran. Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo menyebutkan bahwa kelompok tersebut ternyata juga terlibat dalam keributan di Rutan Klas I Surakarta, Kamis (10/1) lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan adalah cara yang biasa dilakukan oleh kelompok tersebut.

Situasi politik yang cukup dinamis di Solo bisa menjadi suatu celah kerawanan yang berpotensi menjadi pintu masuk terjadinya gangguan keamanan hingga konflik sosial. Deteksi dini dan cegah dini perlu dilakukan terutama atas potensi ancaman konflik yang didorong oleh sentimen SARA.

Jika ancaman tidak bisa dicegah maka hal yang harus dilakukan oleh negara adalah sikap tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Tanpa ketegasan negara maka kelompok tersebut akan melakukan aksi lagi dengan skala yang lebih besar.

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait