Nikel Indonesia, Elon Musk dan Potensi RI di Mata Dunia

  • Whatsapp
Elon Musk
CEO Tesla, Elon Musk.

Peraturan mengenai pemberhentian ekspor bijih nikel yang berlaku sejak 1 Januari 2020, membuat Uni Eropa kalang kabut sehingga menggugat pemerintah Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kebijakan pemberhentian itu sejalan dengan diberlakukannya Peraturan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permen ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Peraturan ini juga dimaksudkan untuk melakukan pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal dengan melakukan hilirisasi produk-produk pertambangan. Uni Eropa menuding bahwa Indonesia telah melakukan unfair trade. Dalam tuntutannya, Uni Eropa menganggap bahwa aturan pemberhentian ekspor nikel mempersulit pihaknya untuk bisa berkompetisi dalam industri yang berdampak pada produktivitas negara-negara kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Indonesia sendiri menyatakan kesiapannya untuk menghadapi tuntutan yang dilayangkan Uni Eropa terkait sengketa ini. Saat ini, Indonesia adalah negara produsen terbesar kedua di dunia sebagai eksportir nikel untuk industri baja negara-negara Uni Eropa.
Indonesia juga tercatat sebagai produsen dengan menguasai pasar global sebesar 27 persen. Sangat wajar bila negara-negara kawasan tersebut bergantung pada bahan mentah dari Indonesia.

Dari aturan tersebut, pelarangan ekspor nikel bersifat final dan hanya bijih nikel yang telah diolah untuk bisa diekspor. Kebijakan ini juga sejalan dengan rencana pemerintah Indonesia dalam mendorong investasi pabrik baterai lithium untuk kendaraan listrik.

Dalam perspektif kebijakan publik, hal ini merupakan aktivitas pemerintah untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi ditengah masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga pemerintah. Kebijakan ini bagian dari keputusan-keputusan yang mengikat pada tataran strategis yang dibuat oleh pemegang otoritas publik dalam rangka mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup orang banyak.

Elon Musk dan Serbuan Investor

Ada fenomena menarik mengenai sosok pendiri Space X sekaligus CEO Tesla Inc, Elon Musk, mengenai ketertarikannya membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia. Elon Musk menyatakan kekagumannya terhadap cadangan nikel Indonesia pada Juli 2020 yang lalu.

Sebagaimana diungkapkan Elon Musk, nikel menjadi bahan baku utama dalam memproduksi baterai lithium untuk mobil listrik Tesla. Jika Tesla Inc telah resmi menanamkan investasinya, tentu akan menjadi peluang besar bagi industri nikel Indonesia meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Selain Tesla, ada beberapa perusahaan baterai listrik raksasa yang akan berinvestasi di Indonesia. Mereka adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) asal China, LG Chem Ltd asal Korea Selatan dan BASF asal Jerman. Kehadiran perusahaan-perusahaan disinyalir mampu melahirkan citra positif bagi Indonesia dalam persepsi global.

Pada akhir tahun lalu, Tesla Inc merilis laporannya terkait rantai pasok (supply chain) untuk produksi kendaraan listriknya. Tesla secara gamblang mengungkap ada 7 perusahaan asal Indonesia yang akan menjadi pemasoknya, dua diantaranya adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Aneka Tambang Tbk dengan kode saham ANTM dan PT Timah Tbk dengan kode saham TINS.
Selain ANTM dan TINS, ada juga PT Vale Indonesia Tbk dengan kode saham INCO yang memiliki cadangan nikel yang cukup besar. Pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (MIND ID) memiliki saham sebesar 20 persen INCO, tetapi belum ada kepastian apakah perusahaan ini juga turut terlibat dalam kontrak jumbo dengan Tesla Inc di masa mendatang.

Kabar mengenai hilirisasi mempengaruhi sentimen positif terhadap kinerja saham emiten nikel di bursa dalam beberapa waktu ini. Dalam tiga bulan terakhir, saham ANTM melesat sebesar 171,28 persen. Sementara saham TINS tumbuh 142, 24 persen dan saham INCO tumbuh 45,20 persen.

Oleh karenanya, kebijakan pemberhentian ekspor nikel merupakan satu langkah progresif dalam memanfaatkan sumber daya alam. Apalagi, tim Tesla Inc telah menyatakan kesiapannya untuk datang ke Indonesia pada Februari 2021 mendatang. Salah satu yang akan dibahas nantinya terkait dengan pengembangan kendaraan bertenaga listrik.

Sebagai negara produsen terbesar kedua di dunia, nikel Indonesia harus memiliki posisi tawar yang kuat dalam persaingan global, terutama mengenai kebutuhan nikel dunia. Kelak, kebijakan atas pelarangan ekspor nikel ini akan menjadi nilai tambah bagi negara dalam jangka panjang.

Yang terpenting dari kebijakan saat ini adalah pengawasan yang kuat untuk menghindari konflik kepentingan dan memastikan program ini bisa berjalan dengan baik. Dengan hilirisasi nikel, berharap Indonesia mampu menjadi pemain global untuk baterai lithium, bahkan dalam waktu 10 tahun ke depan, kita punya potensi sebagai pemasok utama mobil listrik.

Pos terkait