Benarkah Wayang Itu Islami & Berhasil Mengislamkan Jawa

4015955643
Dosen Universitas Airlangga Surabaya, Henry Subiakto.

Saya bikin tulisan ringan terkait wayang, karena nampaknya banyak orang tidak paham terhadap seni adiluhung ini, tapi mereka malah mendahulukan kebencian sebelum memahami atau belajar sejarah dan keberadaan wayang secara jernih.

Saya kenal wayang sejak masih kecil, saat SMP dulu sering beli wayang yg terbuat dari kardus, dikumpulkan dan dimainkan di rumah. Dilengkapi dengan kotak kayu, kecrek dan gedebok pisang. Layarnya pakai tembok rumah yang kebetulan warnanya putih.

Bacaan Lainnya

Walau Ayah ibu saya Islam yg taat dan pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah, tapi saya sejak SD dan SMP dibolehkan memainkan wayang hingga  nonton pertunjukkannya atau mendengarkan lewat radio semalaman. Bahkan saya pernah bercita-cita jadi dalang. Makanya lalu belajar tentang wayang.

Dalang Wayang kulit yg terkenal saat itu ada Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Sugi Cermo Sarjono hingga Ki Suparman (ayah dari dalang terkenal Ki Seno Nugroho, almarhum). Mereka semua itu dalang top gaya Jogja tahun 1980-an.

Kalau dalang cengkok atau gaya Solo yg terkenal saat itu Ki Narto Sabdo, Ki Anom Suroto, lalu belakangan Ki Manteb Sudarsono, yg cara nglucunya mirip2 Ki Hadi Sugito dari Toyan Wates Jogja. Belakangan ada Ki Warseno Slank, sahabat saya.

Saya dulu kalau nonton Wayang Kulit tiap malam minggu kedua hadir di Gedung Sasono Hinggil Dwiabad, Alun2 Selatan Jogja, biasanya disiarkan live oleh RRI. Ini pertunjukkan rutin di wilayah bangunan Keraton Jogja bagian selatan. Kalau pas pertunjukkan ramai sekali yang datang.

Kadang juga nonton di kampung2, atau sampai jauh hingga di Daerah Magelang bahkan Semarang. Biasanya itu ikut kakak saya yang melihat pertunjukkan dalang kondang. Oh ya dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito (almarhum).

Ki Hadi Sugito itu sangat lucu kalau memainkan punokawan. Suaranya bagus, sabetan juga bagus. Karena dalang mampu melucu dan membuat suasana menarik, saat itu tidak ada pagelaran wayang yg manggil bintang tamu seperti pertunjukkan wayang kulit sekarang. Karena pertunjukkan wayangnya sudah sangat menarik,  sangat lucu, meriah walau tanpa mengundang pelawak. Dan itulah pertunjukkan wayang sesuai Pakem.

Di era itu, pesinden juga masih menghadap ke kelir, bukan mejeng menghadap ke penonton seperti sekarang. Dan tak ada acara bintang berjoget atau nyanyi di adegan Limbukan. Ini sampai 1990. Sejak itu wayang berubah, terutama dimulai dengan gaya Solo, yang dibuat lebih atraktif. Saat itu yang terkenal dengan dalang Ki Manteb Sudarsono yang fenomenal.

Sejak tahun 2000 Layar atau kelir dibuat lebih lebar. Pesindennya yg dilibatkan juga lebih banyak, hingga bisa sampai 9 dilengkapi pesinden tamu, bahkan ada orang Asing. Yaitu Pesinden dari Amerika, dari Jepang dll. Mereka dipajang menghadap penonton. Menjadi bagian dari daya tarik.  Saat Limbukan dan Goro-goro, ki dalang juga mengundang bintang tamu lawak. Wayang berubah jadi tontonan yg dilengkapi dengan berbagai alat modern.

Saat saya Skripsi di Jurusan Komunikasi UGM, penelitian saya juga tentang Wayang. Meneliti Wayang Sadat, sejenis wayang kulit yg dipakai dakwah Islam di daerah Trucuk Klaten Jawa Tengah. Wayang Sadat ini wayang lanjutan jaman Purwo, cerita tentang para Wali Songo.

Dalang Wayang Sadat saat itu namanya Ki Suryadi, Guru SMK Muhammadiyah di Klaten tahun 80an. Pak Guru ini seorang Da’i yang mengikuti jejak para penyebar Islam di Tanah Jawa, berdakwah menggunakan Wayang kulit. Yaitu Wayang Sadat.

Wayang sebagai media dakwah memang memiliki sejarah. Dari sejak dIgunakan oleh Sunan Kalijogo untuk menarik masyarakat Jawa belajar dan masuk agama Islam, hingga sekarang. Seni dan budaya leluhur yg sudah ada sejak dulu tidak dirusak,  tapi dimanfaatkan untuk Dakwah Islam, Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Cerita Wayang itu aslinya memang berasal dari Kitab Mahabarata dan Ramayana. Penulisnya Empu Viyasa Khrisna Dhipayana dari India. Latar belakangnya ajaran Hindu. Tapi saat akan digunakan para wali sebagai media dakwah, dilakukan banyak modifikasi, baik visualisasi maupun jalan ceritanya, disesuaikan dengan ajaran Islam.

Sebelum jadi Wayang Purwo atau Wayang Kulit, bentuk awalnya, di jaman Mojopahit masih berupa Beberan (Wayang Beber). Bentuknya gambar tokoh-tokoh cerita Mahabarata dalam gulungan panjang. Gambar-gambar manusia itu bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagaimana diketahui dalam Islam ada larangan membuat gambar manusia atau makhluk hidup.

Dari yang awalnya gambar manusia berbondong di gulungan, oleh para wali dibuat terpisah-pisah, satu satu. Awalnya ada yang dibuat model wayang Tengul, tapi masih dianggap mirip manusia, lalu dipipihkan divisualkan di kulit lembu jadi tidak berbentuk seperti manusia. Itulah wayang kulit.

Saat jadi Wayang Kulit, visualisasinya jauh beda dengan patung ataupun gambar manusia. Ada perdebatan antar Wali, para ulama besar saat itu, untuk memvisualisasikan wayang agar tidak melanggar Figih, atau larangan Islam. Bahkan makna visualisasinya dimasukkan unsur-unsur ajaran Islam.

Sebagai misal, Lima kesatria Pandawa itu oleh para wali dipilih sebagai lambang 5 Rukun Islam. Pertama, Samiaji atau Puntadewa, punya pusaka Kalimasada (maknanya itu Kalimasahadat). Kedua Bima, punya pusaka Kuku Pancanaka (artinya bilangan 5 yg harus digenggam) maksudnya Sholat 5 waktu.

Ketiga Arjuna, dia melambangkan ibadah puasa. Arjuna ini selalu diceritakan suka bertapa, tidak makan tidak minum, jalan jauh untuk membantu banyak orang yang membutuhkan. Hidup dan Penampilannya baik, halus dan mempesona. Itu lambang rukun Islam Ketiga.

Nama lain Arjuna adalah Janaka dari kata Janahuka, artinya sorgamu. Siapa yang ingin masuk surga, maka berpuasalah dan berbuat baik, halus tutur kata seperti Arjuna.

Keempat dan kelima Pandawa adalah Nakula dan Sadewa. Adalah Kesatria kembar yg berpenampilan bersih, pakaiannya bagus. Tapi jarang tampil. Ini lambang orang yang berpunya, yg memiliki kewajiban rukun Zakat dan Haji, tanpa menunjuk nunjukkan apa yang dilakukan dirinya.

Gunungan Wayangpun punya makna ajaran Islam. Gunungan diciptakan Sunan Kalijogo di masa Sultan Ali Akbar Pertama (Raden Patah). Wujudnya seperti kubah Masjid. Tapi jika diputar, dari atas ke bawah, jadi jantung hati. Maksudnya lambang agar orang- orang cinta Masjid.

Jika Gunungan dibalik, ornamen belakang ada api menyala-nyala seperti api neraka. Yaitu ancaman bagi mereka yg tidak mencintai masjid. Tapi ini juga berarti candrasengkala berangka tahun kapan Gunungan itu dibuat. Yaitu 1443 tahun Saka, atau 1521 Masehi.

Dalam ornamen di Gunungan ada gambar samudera itu melambangkan pikiran yg harus luas untuk meniti 7 anak tangga ke pintu kehidupan. Itu pitutur hidup semua kehidupan itu akan menuju kematian. Kullu Nafsin Dza Ikhotul Maut. Semua yang hidup pasti akan mati.

Gambar undak undakan dan pintu melambangkan, manusia akan menuju pintu surga bila bisa melewati makhluk antara lain: kerbau, simbol kemalasan dan kebodohan.  Monyet simbol serakah. Ular simbol kelicikan. Banteng lambang ruh yang dihinggapi nafsu aluamah (nafsu biologis yang tidak pernah puas).

Ada gambar Harimau itu simbol amarah, emosi. Ada Naga itu simbol nafsu sufiah (duniawi). Dan gambar Garuda itu nafsu muthmainah (nafsu yg baik, tenang).  Jika manusia mampu menundukkan binatang binatang atau semua nafsu itu, maka manusia akan bahagia dunia akhirat.

Para Wali (Ulama besar saat itu) Sunan Bonang, Sunan kalijaga dan Sunan Kudus diskusi tentang media dakwah wayang ini. Mereka memberi tampilan ornamen dengan budaya lokal tapi sarat unsur Islam. Wayang kulit terutama Gunungan itu kaya filosofi  kehidupan. Visual Gunungan ini khas Nusantara. Tidak ada di India yang Hindu.

Makna Gunungan melambangkan kehidupan sesuai filosofi ajaran Islam. Biasanya makna makna itu disampaikan ki Dalang saat jejer, ataupun waktu waktu tertentu, sebagai pengantar sekaligus untuk berdakwah menyentuh hati penontonnya. Hanya penyampaiannya sangat halus, berbau tasawuf. Itulah tujuan visualisasi gunungan wayang kulit.

Gunungan memang memiliki banyak makna. Makanya dalam setiap pertunjukkan wayang selalu ada Gunungan ditampilkan dan dipakai pada tiap adegan. Dari awal sampai akhir. Untuk mengingatkan manusia termasuk sang dalang.

Jadi, Wayang itu gambaran kehidupan manusia dengan berbagai karakternya. Secara halus para Wali mengajarkan budi pekerti (Akhlaq), lewat cerita Wayang dan karakter tokohnya. Pandawa adalah contoh akhlag yg terpuji (mahmudah). Sedang Korawa yang suka bergerombol keroyokan, kasar, suka ribut dan dzolim, contoh akhlak yg buruk (mazmummah).

Cerita dan silsilah Wayangpun oleh para Wali dibuat beda dengan versi Hindu. Selain ada cerita carangan, dimana para dewa sering dikalahkan manusia, yaitu Pandawa atau keturunannya. Dalam wayang Purwo, silsiah para dewapun dibuat sebagai keturunan Nabi Adam. Para Kesatria itu keturunan Dewa, nah para Dewa itu keturunan Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Sis, Sang Hyang Nurasa, puncaknya Nabi Adam. Ini semacam dekonstruksi Hindu oleh para wali.

Jadi selain lewat perdagangan, akulturasi budaya, salah satu penyebaran Islam adalah dengan penggunaan kesenian Wayang dan gamelan. Para wali berhasil mengislamkan Tanah Jawa dan Nusantara, lewat pendekatan Kebudayaan yg damai. Islam menyebar ke timur, hingga Nusantara secara damai, bukan lewat perang dan penakhlukkan. Berbeda dengan perkembangan Islam ke Barat.

Itu cerita tentang Wayang yg telah jadi budaya sekaligus sarana dakwah dan media pelajaran budi pekerti. Wayang dimanfaatkan ulama Jawa untuk dakwah dan mendidik rakyat. Kalau orang Islam sekarang memusuhi Wayang, jangan heran kalau justru akan jadi milik asing, atau agama lain yang beda dengan tujuan para ulama atau wali pembuatnya dulu.

Wayang sekarang adalah kesenian yg lengkap. Ada musik gamelan yg luar biasa dan gamelan itu benar benar asli Indonesia. Ada seni lukis. Seni tatah, seni suara, seni tari, seni lawak, dan kekayaan budaya yg tiada tara. Makanya Unesco saja memberi penghargaan. Kalau bangsa sendiri malah anti, yaitu karena tak paham dan tidak punya jiwa seni.

Mudah-mudahan apa yg saya sampaikan dengan utas ini bisa menambah pengetahuan dan berguna menambah kecintaan pada seni budaya milik bangsa. Amin YRA.

Penulis adalah Prof. Henry Subiakto, Guru Besar Universitas Airlangga dan Staf ahli Kominfo

Pos terkait