Begini Ritual “Nyembelih Manusia”, Tradisi Unik di Semarang

  • Whatsapp
IMG 20210207 WA0039
Peletakan sesajen di ritual nyembelih manusia bekakak.

Semarang, Inisiatifnews.com – Indonesia adalah negara yang memiliki ragam keunikan yang begitu banyak. Masyarakat di masing-masing daerah memiliki berbagai kegiatan yang merupakan kearifan lokal di wilayah mereka.

Salah satu yang unik ada di dusun Cemanggal. Sebuah dusun di dataran tinggi di desa Munding, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di sana, ada tradisi yang bernama “nyembelih manusia” bekakak.

Tradisi nyembelih manusia bekakak ini adalah sebuah ritual adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat yang ada di lereng pengunungan Ungaran itu, dimana salah satu kegiatan tersebut hanya dilakukan pada hari Sabtu Pon (kalender jawa) pada bulan jumadhil akhir (kalender Islam).

Prosesi kegiatan adat ini adalah rangkaian dari kegiatan kadeso atau ruwatan desa, dimana setiap setahun sekali seluruh warga akan berkumpul di halaman sesepuh desa atau kepala dusun untuk mensyukuri limpahan kesuburan tanah dan hasil bumi. Dan pada tahun ini, mereka menggelarnya pada hari Sabtu 6 Februari 2021.

Menurut keterangan dari Kepala Dusun Cemanggal, Juwanto, bahwa nyembelih manusia bekakak ini bukan menyembelih manusia sebenarnya, melainkan sebuah sajen yang terbuat dari wajik ketan yang dibentuk menyerupai manusia dilengkapi dengan juroh (kuah) yang terbuat dari campuran air tape singkong dengan gula aren. Juroh ini disimbolkan sebagai darah manusia. Dalam ritual itu, para peserta akan memotong bekakak layaknya menyembelih orang.

IMG 20210207 WA0037
Manusia Bekakak. Simbol ritual sembelih manusia bekakak asli warga dusun Cemanggal.

Proses ritual ini pada umumnya dilakukan diawali dengan mempersiapkan segala keperluan oleh warga. Kemudian mereka akan berkumpul di satu titik, biasanya berada di kediaman kepala dusun.

Setelah mereka semua berkumpul dan barang bawaan telah siap, maka seluruh warga akan berjalan bersama melewati jalan dusun dan melintas di lereng Gunung Ungaran menuju salah satu sumber mata air keramat, tepatnya di Curug Dawang yang berada di ketinggian sekitar 1.500 MDPL Gunung Ungaran.

IMG 20210207 WA0043
Jalan setapak di dusun Cemanggal.

Barang bawaan yang disiapkan antara lain ; nasi ingkung, sayur gecok, ayam bakar dan ikon utama yakni manusia bekakak. Seluruhnya dibawa mengunakan senek, sebutan sebuah wadah barang bawaan yang terbuat dari rajutan bambu.

“Kemudian ia ditaruh pada tampah besar dan dibawa ke Curug Dawang untuk selanjutnya akan dilakukan prosesi upacara adat berupa penyembelihan manusia bekakak ini,” terang Juwanto.

Menurut legenda yang diyakini masyarakat dusun Cemanggal, bahwa konon dahulu kala, prosesi itu berlangsung dengan peran manusia sebenarnya. Manusia itu adalah tumbal atau seserahan kepada sesuatu gaib yang menjaga wilayah mereka.

“Bekakak sendiri dahulu adalah manusia yang dipersembahkan untuk disembelih setiap setahun sekali. Sebagai bentuk bhakti kehidupan kepada Tuhan yang sudah memberi kehidupan berikut alam dan isinya,” ujarnya.

Karena seiring waktu berjalan dan adanya ritual panjang di dalamnya, akhirnya manusia itu diubah menjadi model replika yang dibuat menggunakan bahan makanan.

“Tetapi setelah melalui proses dan ritual yang panjang berikut segala kegiatan adat budaya yang ada terhitung sekitar dalam abad ke 16, manusia bekakak yang disembelih setiap setahun sekali ini digantikan dengan wajik ketan yang dibentuk menyerupai manusia lengkap dengan darah yang dikalungkan pada leher manusia bekakak ini,” papar Juwanto.

“Jadi ketika disembelih akan keluar cairan juroh menyerupai darah manusia,” sambungnya.

Mengapa tradisi klenik ini masih dirawat?

Dalam kesempatan terpisah, pegiat literasi dan kebudayaan asal Semarang, Nukhan Dzu Khalimun memaparkan, bahwa tradisi ini selalu dirawat sebagai upaya untuk menjaga kearifan lokal yang tumbuh berkembang di wilayah mereka.

“Kesadaran berbentuk bhakti masyarakat akan sebuah tradisi warisan luhur yang harus tetap dijalankan,” papar Nukhan.

Walaupun terkesan hanya sebuah tradisi semata, namun ia menyatakan jika ada nilai tersendiri yang ada di dalam ritual tersebut dan sulit untuk dijelaskan dengan pemahaman sederhana.

“Upacara adat dan pelaksanaan nyembelih manusia bekakak ini bukan hanya perkara kegiatan yang harus dilaksanakan saja, ada kandungan nilai falsafah hidup juga kaidah budaya yang warga Cemanggal harus jalankan,” jelasnya.

“Nyembelih manusia bekakak adalah bentuk bhakti mereka kepada kehidupan, juga terkait upaya mereka untuk menjaga kelestarian alam dan warisan budaya leluhur,” sambungnya.

Sebagai koordinator Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Munding, Nukhan menyebut bahwa kegiatan tersebut dijalankan tetap menggunakan protokol kesehatan. Hal ini sebagai wujud kesadaran dan kepatuhan warga terhadap adanya wabah Covid-19.

“Kita tetap berusaha dan mengindahkan apa yang menjadi aturan maupun imbauan terkait 3M dan yang lain. Bahkan berbeda dengan tahun biasanya, kali ini diikuti hanya sekitar 25 persen dari total masyarakat Cemanggal,” tandasnya. [NOE]