Inilah Sosok Srikandi Maluku, Ketua Aisyiyah DKI Jakarta 1960

Siti Nur Saat Sangadji
Siti Nur Saat Sangadji.

Inisiatifnews.com – Hj. Siti Nur Saat Sangadji Mantan Ketua Umum Aisyiyah DKI JKT 1960 an, adik perempuan bungsu Abdoel Moethalib Sangadji. Wanita yang selalu menemani abangnya A.M.Sangadji dalam pergerakan perjuangan bangsa menuju Indonesia Merdeka.

Tahun 1942 ketika A.M.Sangadji keluar dari tahanan pendudukan Jepang, hegemoni jago toea ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah Jepang. Hingga tahun 1944 di Samarinda Jepang melakukan konsolidasi untuk melakukan rekrutmen pemuda dan pelajar Bumiputera dilatih sebagai tentara Heiho di dataran Kalimantan.

A.M.Sangadji sang orator (agitator dan propagandis ulung) dihubungi pemerintah Jepang guna melakukan suatu kerjasama yakni melakukan pendidikan dan pelatihan ala militer, A.M.Sangadji memenuhi permintaan Jepang menarik para pemuda menjadi Prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Tetapi bukan untuk membantu Jepang dalam peperangan, melainkan mempergunakan kesempatan itu sebagai latihan dalam mengoperasionalkan alat – alat persenjataan perang tersebut.

Dalam pidato nya di lapangan luas A. M. Sangadji, mengemukakan : “Terima kasih Dai Nippon yang telah berhasil membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda dan selanjutnya akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.”

Tetapi sesudah angkatan udara sekutu, melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap kota balikpapan dan menghancurkan pertahanan Jepang. Sebagian besar heiho yang berasal dari Samarinda berjalan kaki menuju Samarinda dengan melintasi hutan. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, umumnya mereka menjadi pejuang bersenjata dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan di daerah ini.

Sementara itu A.M.Sangadji, Siti Nur Saat Sangadji, dan beberapa tokoh pejuang lainnya oleh Jepang diperintahkan mengungsi ke daerah pedalaman, dari Long Iram mereka jalan darat menuju Kalimantan Selatan, sampai di Puruk Cahu A.M.Sangadji yang kemudian mengetahui situasi yang sebenarnya yakni bahwa Indonesia sudah merdeka menggabungkan diri dengan para pejuang di daerah itu, A.M.Sangadji Mengibarkan Bendera Sang Saka Merah Putih ke seluruh pelosok negeri yang dilaluinya mengabarkan bahwa Indonesia sudah merdeka.

Di daerah ini beliau ditawan oleh Belanda, kemudian dalam tahun 1946 dibawa ke Samarinda serta dimasukan di dalam tahanan. Sesudah beberapa lama A.M.Sangadji dikirim ke tanah Jawa oleh Belanda dan dipenjarakan di Cipinang.